Venezuela, salah sebuah negara yang berada di kawasan kaya sumber daya alam seperti minyak bumi dan batu bara di Amerika Latin, semenjak terpilihnya Hugo Chavéz di awal abad ini, menjadi sorotan besar grup-grup Kiri internasional—selain juga menjadi sorotan pihak yang diklaim sebagai lawannya semisal Amerika Serikat dan negeri-negeri di Eropa Barat. Tentunya, negara itu pun pada gilirannya menjadi daya tarik tersendiri yang menyedot ratusan “turis revolusioner” yang berkeinginan untuk menyaksikan sendiri proses transformasi masyarakat yang terjadi di dalamnya.
Seperti negeri-negeri Amerika Latin lainnya yang menjadi jajahan imperium Spanyol yang dimulai dengan mendaratnya Columbus, sejarah interaksi internasional Venezuela adalah juga sejarah yang dipenuhi dengan pembersihan etnis indian, pembantaian, perbudakan, dan juga sekaligus perjuangan melawan penindasan itu sendiri. Dengan demikian, seperti lainnya, sejarah juga menampilkan tokoh-tokoh penting anti imperialisme seperti Simon Bolivar atau dikenal di sana sebagai El Libertador, sang pembebas. Tokoh yang kini dijadikan simbol identitas perjuangan Amerika Latin di samping Ernesto Che Guevara atau Tupac Amaru III (yang kurang populer di luar Amerika Latin). Kini di bawah pemerintahan Hugo Chavéz, citra Bolivar kembali dikumandangkan dengan klaim pemerintahannya sebagai proses Bolivarian yang akan membebaskan Amerika Latin dari cengkeraman kapitalisme global. Dan dengan citra inilah Hugo Chavéz berhasil meraih kursi kepresidenan. Persis sama dengan penggunaan citra pahlawan lokal, Emiliano Zapata, yang digunakan oleh gerakan Zapatista di Meksiko. Bedanya, Chavéz menggunakannya untuk meraih tampuk kepresidenan, sementara gerakan Zapatista untuk membangun gerakan sosial akar rumput ekstra-parlementer.
Naiknya Fidel Castro di Kuba pada pertengahan abad lalu, juga berpengaruh besar dalam proses pembentukan citra perlawanan Amerika Latin. Grup-grup gerilya bersenjata yang populer di Amerika Latin juga mendapat inspirasi dari aksi Castro dan kawan-kawannya di Kuba. Venezuela menerbitkan FALN sebagai grup revolusioner Kiri bersenjata yang juga berpengaruh besar dalam mempopulerkan ide-ide tentang masyarakat sosialis. Ditambah dengan ketidakstabilan situasi di Timur Tengah pada awal dekade 1970-an, meroketkan minyak Venezuela di pasaran internasional, yang mendorong presiden saat itu, Carlos Andés Peréz, untuk mulai menasionalisasikan semua perusahaan minyak dan tambang-tambang bijih besi. Presiden terus berganti, dan gerakan-gerakan gerilya maupun grup-grup bersenjata di kawasan urban (semisal Los Tupamaros) ditambah merembesnya tokoh-tokoh mantan gerilyawan Kiri populer ke dalam politik parlementer seperti Douglas Bravo, terlibat aktif dan berpengaruhnya Chavéz di jajaran militer nasional Venezuela, FAN, serta konsolidasi yang solid antar grup-grup akar rumput yang bertebaran di seluruh penjuru Venezuela, membuat Hugo Chavéz pada awal abad ini berhasil meraih kursi kepresidenan.
Proses berkuasanya Chavéz adalah hasil dari perjalanan panjang para militan di negeri tersebut, yang memang didominasi oleh kaum Marxis. Dan bagi banyak kalangan, keberhasilan Chavéz tersebut adalah sebuah bukti bahwa gerakan Kiri masih mendapat tempat pasca keruntuhan “komunisme” Uni Soviet yang dipandang oleh banyak kalangan juga sebagai bukti kegagalan ide-ide Kiri. Tahun 2002, CIA mengorganisir sebuah kudeta untuk menyingkirkan Chavéz dan berakhir dengan kegagalan yang memalukan karena banyak para Chavista (pendukung setia Chavéz) dibantu oleh solidnya para pimpinan FAN yang loyal pada Chavéz bertindak atas inisiatif mereka sendiri untuk menyelamatkan Chavéz. Semua mata dunia mulai memandang pada Venezuela, di mana pemerintahan Kiri tampaknya didukung sepenuhnya oleh publik.