VENEZUELA
1. Potensi Venezuela Menjadi Negara Adidaya
Setelah berhasil memenangi pemilu pada Desember 2006 yang merupakan kemenangan ketiga kalinya bagi Chavez sejak 1998, Venezuela menuju era baru nasionalisasi atas aset-aset strategis negara. Venezuela adalah sebuah negara yang terletak di Benua Amerika, tepatnya di Amerika Selatan. Venezuela diklasifikasikan oleh World Bank sebagai negara berkembang pendapatan menengah keatas dengan GDP/kapita sebesar 6,070 US$ (2006). Pada tahun 2006, minyak menjadi sektor utama negara ini, menyumbangkan sekitar sepertiga GDP. Sektor minyak juga diketahui menyumbangkan 80% dari total ekspor negara ini.
Keputusan Venezuela untuk menarik keanggotaannya dari International Monetary Fund (IMF) dan World Bank adalah langkah yang tepat. Apalagi Venezuela telah lama menyadari keburukan dari kedua lembaga yang menjadi kaki tangan Amerika Serikat itu. Didukung dengan kekayaan sumber daya alam yang besar, Venezuela akan mampu melepas diri dari ketergantungannya pada modal asing internasional yang besar. Ditambah dengan teori yang mengatakan bahwa bila suatu negara menguasai sumber energi, maka dapat dipastikan dia juga mempunyai kekuatan politik. Jadi, Venezuela bisa saja berpotensi menjadi negara adidaya seperti Amerika Serikat, jika dilihat dari beberapa segi, yaitu :
Segi Ekonomi
Berbagai kalangan dalam industri minyak memperkirakan bahwa Venezuela menguasai simpanan minyak sampai 1,3 triliun barrel. Jumlah ini sama dengan seluruh jumlah persediaan minyak seluruh dunia. Presiden Hugo Chavez mengatakan bahwa Venezuela memiliki sumber minyak yang terbesar di dunia yang baru bisa habis 100 tahun lagi. Walaupun data resmi OPEC 2005 menunjukan cadangan minyak negara ini terbukti hanya kira-kira 80 milyar barel, Arab Saudi 284 milyar barel, Iran 136 milyar barel, AS hanya 21 milyar barel, namun ini adalah lebih 70 persen dari cadangan keseluruhan Amerika Latin. Hugo Chavez akan minta kepada sidang OPEC untuk mengukuhkan secara resmi bahwa persediaan minyak Venezuela sekarang ini sudah lebih besar dari pada Saudi Arabia.
Kedudukan Venezuela dalam OPEC makin kelihatan menonjol, karena keberanian pemerintahnya mengambil tindakan-tindakan untuk melindungi kepentingan nasionalnya dan melawan maskapai-maskapai internasional. Venezuela mengadakan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan minyak negara di Tiongkok (dengan CNPC), India (dengan ONGC), dan Iran (dengan Petropars). Berbagai kalangan memperkirakan bahwa setiap harinya sekitar $200 juta hasil minyak masuk ke kas negara Venezuela, dan lebih dari separonya datang dari pasaran Amerika Serikat. Saat ini 74,6 persen kebutuhan minyak USA sebagian besar diimpor dari Kanada, Meksiko, Arab Saudi, Venezuela, dan Nigeria.
Setelah mengukuhkan sebagai penghasil minyak terbesar di dunia, Chaves juga mengeluarkan kebijakan mengenai keluarnya Venezuela dari IMF dan World Bank setelah membayar semua utang mereka, ini merupakan perjalanan panjang dari impian Chavez dari sejak pertama terpilih menjadi presiden pada tahun 1998. Kini, di periode kedua kepemimpinannya Chavez bisa bernapas lega karena impiannya sudah terwujud dengan baik. Kebijakan ini adalah penentu awal perjalanan panjang venezuela sebagai negara yang berkuasa atas dirinya sendiri.
Bukan tanpa alasan Chavez mengambil langkah untuk keluar dari dua institusi buatan Konsensus Washington itu. Pengalaman masa lalu membuatnya berpikir untuk berbuat lebih baik untuk negaranya. IMF dan World Bank di mata Chavez adalah institusi lintah. Program-program pembangunan IMF dan World Bank telah menggiring negara-negara pendonor menuju kehancuran, tak terkecuali Venezuela.
Pinjaman yang diberikan kepada negara penerima bukanlah gratis. Selain bunga, mereka juga menuntut adanya campur tangan mereka dalam proses perumusan kebijakan. Kebijakan-kebijakan titipan inilah yang kemudian justru semakin menurunkan kesejahteraan rakyat. Kenaikan pengangguran, meningkatnya kemiskinan, bertambahnya utang dan dominasi penguasaan sumber daya alam adalah dampak negatif menjadi penerima utang IMF atau Worl Bank. IMF juga memberikan prediksi palsu mengenai pembangunan perekonomian mereka demi mendukung kepentingan dan ketergantungan negara penerima bantuan. Fakta ini jelas membuat Venezuela merasa kegerahan, Chavez menentang habis-habisan praktek imperialisme ini.
Oleh karena itu, segera setelah berkuasa pada tahun 1999 Chavez langsung membayar lunas utang Venezuela kepada IMF, kemudian diikuti pelunasan utang mereka pada World Bank pada tahun 2007. Maka, jelas sudah Venezuela menarik keanggotaannya dari lembaga pengusung neo-liberal itu. Tujuannyapun jelas, ia ingin setiap pendapatan yang diterima negara tidak dibayarkan untuk utang, melainkan untuk mensejahterakan rakyatnya. Juga melepaskan diri dari ketergantungan terhadap bantuan dari luar.
Jadi, sebagai penghasil minyak terbesar di dunia dan keberaniannya keluar dari IMF dan World Bank, Venezuela berpotensi untuk menjadi negara adidaya. Tidak hanya sampai disitu Chavezpun merealisasikan impiannya yang lain, yaitu Banco Del Sur. Sebuah lembaga keuangan regional Amerika Selatan, yang mempunyai tugas seperti IMF. Lembaga ini bertugas memberikan pinjaman, tapi tanpa syarat intervensi kebijakan negara si peminjam. Dengan adanya lembaga yang sering disebut sebagai Bank of South ini diharapkan akan semakin mempermudah pengaruh Chavez ke negara sekitar. Meningkatkan semangat anti neoliberal dengan melepaskan rintangan awal, yaitu IMF dan World Bank.
Segi Politik
Sejak kepemimpinan Hugo Chaves, Venezuela merubah Undang-Undang negaranya yang tadinya Liberal menjadi Sosialis, karena Liberal dianggap tidak bisa memperbaiki pemerintahan Venezuela dan hanya menyebabkan ketergantungan terhadap Amerika. Setelah penguasaan atas pemerintahan dan parlemenlah, Chaves berani merombak UUD negara dan menjadikan Venezuela sebagai negara sosialis.
Selama dua tahun pertamanya menjabat, Chavez menekankan reformasi politik. Pada 2001, pemerintahan Gerakan Republik Kelima (MVR) mengesahkan rangkaian undang-undang dengan kandungan sosio-ekonomi yang signifikan, termasuk reformasi agraria dan sebuah undang-undang yang menjamin kepemilikan mayoritas negara dalam semua operasi industri minyak.
Pada 2002, sikap AS terhadap Chavez mulai bersinggungan dengan rencana partai-partai tradisional kaum oposisi yang selama itu mempertahankan sikap tak berkompromi. Dukungan Administrasi Bush pada kudeta singkat terhadap Chavez pada April 2002, persetujuannya terhadap pemogokan umum 10-minggu yang sama sia-sianya pada tahun itu dan upaya-upayanya yang lebih baru belakangan ini untuk mengisolasi Venezuela dari para tetangganya bukanlah sekedar reaksi terhadap reformasi-reformasi tertentu yang mengancam kepentingan ekonomi. Washington takut terhadap “efek demonstrasi,” yakni pengaruh yang dapat disebabkan oleh Venezuela terhadap negeri lain di benua tersebut.
Segi Teknologi
Sebagai tindak lanjut dukungan Venezuela terhadap perangkat lunak open source dan kemerdekaan teknologi, pemerintah Venezuela berhasil meluncurkan “Komputer Bolivarian”. Dirakit di dalam negeri, komputer ini hadir dalam 4 model dan seluruhnya menjalankan sistem operasi GNU-Linux. Pemerintah Venezuela dari semula memang telah memberikan dukungan yang kuat bagi perkembangan perangkat lunak open source di negaranya. Pemerintah Venezuela berharap dapat mengembangkan industri lokal dan produknya bisa bersaing dengan produk buatan negara lain serta berjuang untuk mencapai kemerdekaan teknologi.
Segi Militer
Venezuela memiliki personil militer yang karakteristiknya berbeda dengan personil lainnya di kawasan Amerika Selatan, diantaranya :
· Militer Venezuela sangat dipengaruhi oleh filosofi Simon Bolivar, figur paling terhormat di Amerika Latin dalam perjuangan pembebasan nasional dari penjajahan Spanyol.
· Sebelum generasi Hugo Chavez, sebagian besar perwira militer memperoleh latihan tidak hanya dalam sekolah-sekolah Amerika (di Amerika Serikat) yang keji dan brutal, tetapi juga dilatih di Akademi Militer Venezuela.
· Perwira militer generasi Chavez, tidak pernah menghadapi kekuatan gerilya yang besar sebagaimana militer di negara Amerika Latin lainnya.
· Tidak ada diskriminasi dalam tubuh angkatan darat Venezuela, setiap orang berpeluang merengkuh pangkat tertinggi.
Personil militer berjumlah :
AD: 34.000 anggota
AL: 18.000 anggota
AU: 7.000 anggota
FAC: 23.000 anggota
Tank: 22.500 buah
Kapal Selam
· Lupo : 6 buah
· Guppy-II : 1 buah
· Destroyer : 2 buah
· Constitutions-Class : 6 buah
· German Type – 209 : 2 buah
· Project 636 Kilo-class : 6 buah
· Project 677 Amur-class : 4 buah
Kapal Induk : 4 buah
2. Langkah-Langkah untuk Menjadi Negara Adidaya
Setelah keluar dari IMF dan World Bank, gelombang anti-neoliberal semakin menggelora di Amerika Selatan. Venezuela semakin leluasa dalam pengambilan langkah-langkah strategis. Langkah pertama yang dilakukan adalah menyatukan kembali OPEC yang terpecah. Saat itu, OPEC tengah berjuang dengan over production dan kejatuhan harga minyak international. Pada tahun 1999, Chavez mengirimkan menteri pertambangan dan energi Ali Rodriguez untuk meyakinkan anggota OPEC menurunkan produksi minyak. Ia juga mengimplementasikan batasan harga minyak untuk pertama kali dalam kartel ini. Kenaikan harga minyak ini tentu saja membuat Washington meradang. Mengingat ketergantungan Amerika akan minyak yang tinggi.
Langkah strategis lainnya adalah dengan menasionalisasikan perusahaan swasta. Nasionalisasi perusahaan minyak seperti Petrleos de Venezuela (PdVSA) di tahun 2003 berdampak pada semakin kuatnya perekonomian Venezuela. Karena negara penghasil minyak terbesar di dunia ini mampu membiayai rakyatnya menuju kesejahteraan yang lebih baik. Ini terlihat dari jumlah yang dihasilkan dari minyak adalah sebesar 59 miliar US$ pada tahun 2006. Tentunya kebijakan nasionalisasi ini didukung oleh serikat buruh, sehingga pengambilalihan ini menjadi mudah.
Selain itu, Chavez terus merealisasikan program-program demokratik pemerintahan Venezuela yang sudah berjalan antara lain: pertama, reformasi agrarian, sebelumnya tercatat 1% tuan tanah memiliki 60% total luas lahan pertanian; kedua¸ menghentikan privatisasi aset-aset negara termasuk perusahaan minyak terbesar di Venezuela, PDVSA. Selanjutnya, Chavez melaju lebih maju lagi, pendidikan gratis sampai tingkat perguruan tinggi; kesehatan gratis; pengurangan jam kerja dari 48 menjadi 44 jam kerja per minggu.
Beberapa program populis Chavez yang dijalankan juga bertujuan melindungi kaum borjuis kecil. Contohnya, aturan yang memberi batas 10 km dari pantai, sebelumnya 5 km bagi perusahaan ikan besar dalam operasinya, sehingga nelayan kecil dapat beroperasi lebih jauh dari garis pantai.
Dalam kebijakan luar negeri, pemerintah Venezuela telah menandatangani perjanjian dengan pemerintah Kuba untuk mengekspor minyak bumi dengan harga murah kepada negeri tersebut. Hubungan akrab juga dijalin dengan pemerintah negeri-negeri yang distempel Amerika Serikat sebagai “Poros Kejahatan”, seperti Irak, Iran, Libya, dan Korea Utara. Negara-negara tersebutlah yang selama ini keras, tegas, menolak dominasi AS. Dalam forum sidang OPEC yang berlangsung di Venezuela, Venezuela sukses memelopori pengontrolan produksi sehingga bisa meningkatkan harga minyak dunia dari 8, 43 dolar AS per barel, pada bulan Februari, 1999, menjadi 23, 34 dolar AS, pada bulan Januari, 2000.
Awal tahun 2007 adalah tahun yang menggemparkan bagi kalangan maskapai-maskapai besar multinasional di dunia, khususnya yang bergerak di bidang minyak. Pada Desember 2006, setelah terpilih untuk kalinya sebagai Presiden Venezuela, Chavez segera melancarkan jurus mautnya; menasionalisasi 2 lapangan minyak di Venezuela yang dikelola TOTAL SA (Perancis) dan ENI (Italia).
Tindakan Chavez terhadap beberapa puluh maskapai minyak asing yang beroperasi di negara yang cadangan minyaknya sekarang diperkirakan terbesar di dunia ini menunjukkan bahwa Venezuela yang kecil dan hanya berpenduduk 25 juta orang itu berani melawan kesembarangan banyak perusahaan multinasional dan berbagai pemerintah (termasuk AS) untuk membela kepentingan nasionalnya.
Selain menasionalisasi 2 lapangan minyak di atas, Chavez juga mengharuskan beberapa puluh maskapai minyak asing yang beroperasi di Venezuela untuk meninjau kembali atau memperbarui kontraknya atau mendirikan perusahaan joint-venture. Chavez mengatakan bahwa kalau maskapai-maskapai asing itu tidak setuju dengan perubahan-perubahan kontrak yang diusulkan pemerintahan Venezuela, maka maskapai-maskapai itu supaya mencari keuntungan di negara-negara lainnya di dunia. Chavez juga memperketat pencengkeramannya terhadap sumber-sumber energi Venezuela, dan mengancam menghukum maskapai-maskapai internasional yang melawan penguasaan atau kontrol pemerintah atas sumber-sumber minyak yang menjadi milik bangsa (threats to punish international companies that resist government control of the nation’s oil fields).
Belum selesai kekagetan atas nasionalisasi minyaknya, Chavez pada Januri 2007 mengumumkan rencananya untuk kembali menasionalisasikan perusahaan-perusahaan yang sebelumnya dikuasai swasta. Sektor listrik dan telekomunikasi menjadi target terdekat Chavez. Program ini akan mempengaruhi perusahaan penyuplai listrik, Eletricidad de Caracas yang dimiliki sebuah perusahaan asal Amerika Serikat. Chavez juga akan menasionalisasi perusahaan Nacional Telefonos de Venezuela (CANTV) menyusul ancamannya yangg akan menasionalisasi CANTV yang diprivatisasi sejak 1991. Cavez mengagendakan amandemen konstitusi untuk mendukung semua ambisinya tersebut termasuk juga amendemen untuk menghapuskan otonomi yang dimiliki Bank Sentral. Menurut Chavez langkah tersebut adalah langkah awal bagi Republik Sosialis Venezuela.
Nasionalisasi yang direncanakan Chavez adalah dalam upayanya mengembalikan semua aset strategis negara yang telah dijual dalam proyek privatisasi oleh rejim pemerintahan pro liberalisme sebelum Chavez. Namun di tengah program nasionalisasi berbagai perusahaan, Chavez masih memberikan kesempatan perusahaan asing untuk ikut mengelola proyek minyak di cekungan sungai Orinoco. Namun, Chavez menekankan bahwa negara harus tetap mengontrol proyek yang menguntungkan itu. Dalam bidang minyak, Chavez memang tidak sepenuhnya melakukan nasionalisasi karena masih melibatkan perusahaan asing.
Gerakan Chavez semakin mendunia melampui batas Amerika Latin. Chavez telah menawarkan minyak pemanas murah kepada warga Eropa berpenghasilan rendah untuk membantu mereka melewatkan musim dingin. Chavez menyampaikan tawaran itu dalam pidato kepada lebih dari seribu aktivis sayap-kiri di Wina. Chavez menghadiri rapat umum protes yang dilangsungkan sehari setelah KTT para pemimpin Uni Eropa dan Amerika Latin di ibukota Austria itu pada awal 2007. Kepada para aktivis muda anti-globalisasi yang berkumpul dia mengatakan mereka harus bersatu dalam mendorong perubahan sosial di Eropa.
Pemerintah Venezuela sendiri telah melakukan hal yang sama di belahan Amerika Latin awal tahun ini, dengan memberikan minyak dengan potongan harga kepada warga Amerika Latin yang kurang mampu. Perjuangan melawan neo liberalisme diperlihatkan dengan memberikan bantuan kepada argentina dalam pelunasan hutang terhadap IMF sebesar 9,8 miliar US$ pada akhir desember 2005. Pada waktu yang bersamaan Venezuela juga memberikan komitmennya untuk membeli Bond Ekuador sebesar 300 juta US$. Ketika Evo Morales, sekutu dekat Chavez, mencanangkan kebijakan nasionalisasi industri gas di Bolivia, reaksi keras datang dari AS. Pemerintah Bush dengan membatalkan bantuan militer sebesar 1,6 juta US$ dan bantuan lainnya yang berkaitan dengan pemberantasan perdagangan obat terlarang. Bolivia juga kehilangan dana 170 juta US$ karena pembatalan ekspor kedelai ke Kolumbia, setelah Kolumbia membuat kesepakatan dagang dengan AS. Chavez mengambil langkah lugas dengan mengumumkan akan membeli seluruh produk kedelai itu. Venezuela bahkan mengumumkan bantuan dana 100 juta US$ kepada Bolivia.
Keberhasilan lain Hugo Chavez dalam menebar paham anti-neoliberal terlihat dari pertemuan tahunan IMF dan World Bank pada tanggal 20-22 oktober 2007 di Washington. IMF dinilai gagal dalam mengatasi krisis keuangan satu dekade lalu yang manjangkiti Asia. IMF juga dinilai gagal memperkirakan kejatuhan ekonomi global akibat pasar subprime mortgage Amerika Serikat beberapa waktu lalu. Brazil dan Argentina, menuding lembaga keuangan internasional itu hanya mendukung kepentingan negara maju, seperti Amerika Serikat dan Eropa. Mereka berpendapat bahwa IMF harusnya juga melakukan evaluasi negara maju seperti yang dilakukan terhadap negara berkembang.
3. Pengaruh Venezuela di Kawasan dan Dunia Dengan nasionalisasi PdVSA semakin mengukuhkan eksistensi Chavez dalam kancah perpolitikan di Amerika Latin, atau bahkan Dunia. Keberhasilannya dalam menasionalisasikan perusahaan minyak swasta dan independensi dalam perumusan kebijakan mendorong Venezuela semakin bermodal dalam menyebarkan pengaruhnya ke negara sekitar.
Chavez adalah ancaman bagi kepentingan Amerika Serikat. Dampak domestik maupun internasional kemenangan Chavez sangat menggelisahkan dan berpengaruh terhadap Amerika Serikat. Nasionalisasi terhadap beberapa aset swasta, dan penolakan terhadap pasar bebas, membahayakan kebijakan luar negeri AS. Karena pemerintahan baru, dengan Revolusi Bolivar-nya, juga meningkatkan pajak bagi investasi asing di sektor minyak dan gas dari 16,6% menjadi 30%. Dan pemerintah tetap berhak atas 51% saham setiap perusahaan minyak dan gas.
Ancaman paling mengerikan bagi kelas penguasa di AS adalah saat pemerintahan demokratik di negeri terbelakang bersatu dan menentang dominasinya. Yang juga tak kalah menakutkan adalah kecurigaan Amerika Serikat bahwa terjadi hubungan antara Chavez dengan gerilyawan kiri di Kolombia (FARC).
Kemampuan Chavez untuk terus-menerus menjalankan berbagai reformasi signifikan di tengah permusuhan AS dan oposisi domestik dukungan AS memberikan pengaruh penting bagi perjuangan progresif di Amerika Latin. Kesuksesan Chavez meletakkan keraguan pada pandangan bahwa dalam dunia kapitalisme global saat ini tidak mungkin lagi bagi negeri-negeri Amerika Latin dan Karibia untuk secara efektif melawan tatanan neoliberal “pasar-bebas”.
Pengaruh Chavez di hemisfer (belahan bumi) tersebut dapat dirasakan di tingkat rakyat maupun diplomatik. Ia telah menjadi pahlawan bagi jutaan rakyat Amerika Latin yang tak diistimewakan, yang mengagumi keberaniannya dan dengan cermat mencatat keberhasilan-keberhasilan politiknya. Beberapa aktivis dan pemimpin telah bereaksi serupa. Berbeda dengan reaksi bercampur terhadap pidato Lula pada Forum Sosial Dunia 2005 di Porto Alegre, Brasil, Chavez mendapat tepukan menggelegar. Chavez menekankan komitmennya pada perjuangan akar-rumput ketika ia mengatakan kepada massa: “Saya di sini bukan sebagai Presiden Venezuela…Saya hanya Presiden karena situasi-situasi tertentu. Saya Hugo Chavez dan saya seorang aktivis sekaligus revolusioner.”
Popularitas Chavez di mata rakyat miskin meningkat setelah pemerintahannya menggunakan hasil penjualan minyaknya untuk program-program sosial bagi rakyat miskin. Pemerintahan Chavez sangat piawai memanfaatkan besarnya pendapatan dari sektor penjualan minyak dan gas alam yang melimpah di negaranya dengan mengadakan proyek-proyek sosial. Diantaranya, memberikan subsidi makanan bagi warga miskin, pendidikan universitas gratis dan memberikan bantuan bagi para ibu sebagai orang tua tunggal yang masih membesarkan anaknya.
Kemampuan Venezuela dalam mempengaruhi bangsa-bangsa di Amerika bersandar pada keberhasilan pelaksanaan kebijakan dan strategi Chavez. Dalam tahap ini, aspek terpenting dari efek demonstrasi Chavez adalah nasionalismenya, yang mendorongnya untuk menepis paksaan-paksaan AS; anti-neoliberalismenya, yang menghadang privatisasi; dan prioritas sosialnya yang telah diterjemahkan ke dalam program-program spesial di bidang kesehatan dan pendidikan.
4. Kesimpulan
Jadi, keluarnya Venezuela dari IMF merupakan sebuah titik nadir dari ketergantungan perekonomiannya terhadap bantuan asing. Keputusan ini mengantarkan Venezuela sebagai motor dalam pengaruh paham anti-neoliberal di Amerika Selatan. Kini selain bisa lebih menyejahterakan rakyatnya, dari hasil minyaknya Venezuela juga bisa membantu negara tetangga untuk keluar dari cengkraman IMF. Venezuela sadar bahwa menegakan harkat dan martabat adalah wajib, walaupun sadar akan perlawanan dari kekuatan kelompok modal Internasional. Maka, dengan keluarnya Venezuela dari IMF berarti telah mengembalikan kedulatan ekonomi dan politiknya lagi dan bisa saja Venezuela menjadi negara adidaya.